Isnin, 1 September 2014



LUDAH YANG KERING
Lihatlah
Masih adakah hati yang berisi ?
Ketika logika sudah berbau terasi
Ketika nurani kian tererosi
Di kilatan hujan pesona yang tak kunjung basi

Lihatlah
Dendangan birokrat dan wakil berdasi
Penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
Ketika tikus sibuk pesta korupsi
Kucing justru giat pamer gusi
Terbuai diempi=uknya jok mercy

Lihatlah
Gempita ruihnya demokrasi
Menumbuhkan nurani yang semakin membesi
Saaat rakyat butuh nasi
Namun justru dikremasi

Ah, sudahlah !
Ini bukan demonstrasi
Ini hanyalah puisi
Dari yang hidup namun sesungguhnya mati




Waktu Gus Dur menjabat Presiden RI, sekali waktu beliau bertemu dengan para romo (pastor) seluruh Keuskupan Agung Semarang. Dan, tak ketinggalan Gus Dur menyelipkan ceritanya. Ini pastor-pastor itu di sebuah negeri senang berburu binatang buas.

Sekali waktu, selesai misa hari Minggu, seorang pastor pergi ke hutan berburu binatang buas. Ia melihat seekor harimau. Langsung sang pastor mengokang senapannya dan menembak: “Dor – dor!” Wah, ternyata tembakannya meleset dan sang harimau balik mengejar sang pastor. Pastor segera berlari mengambil langkah seribu. Tiba-tiba si pastor berhadapan dengan jurang yang dalam. Si pastor langsung berhenti, berlutut, dan mengatupkan tangannya berdoa sebelum diterkam harimau. Berdoa sebelum mati.

Selesai berdoa, sang pastor terheran-heran karena ternyata ia masih hidup, tidak diterkam harimau. Waktu ia menoleh ke kanan, dilihatnya harimau itu berlutut di sampingnya dan berdoa sambil mengatupkan kedua kaki depannya, seperti orang Katolik mengatupkan kedua tangannya ketika sedang berdoa. Si pastor lalu bertanya kepada harimau, “Harimau, kamu kok tidak menerkam saya, malah malah kamu ikut-ikutan berdoa seperti saya. Mengapa?” Jawab harimau: “Ya, saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!”

 

Categories: , ,

0 ulasan:

Catat Ulasan