Isnin, 1 September 2014



Hidup

Dulukuberfikirkauhanyalah
Orang biasa
Yang hanyabisamarah-marah
Dan hanyabisabanyakbicaratapiakusadar
Bahwakaubukanlah orang biasa
Tetapikauadalahseorangpahlawantanpajasa
Yang mengajarikuapaartihidupini
Yang memberitahukuuntukapaakuhidup di duniainikautidakpernahberhentiberfikir
Berfikirbagaimanacara
Untukbisamembuatkupandai
Untukbisamembuatkumengerti
Dan untukbisamembuatkusukseskautidakpernahberhentiberusaha
Walaupun di hina
Walaupun di cela


Kautetapteguhdansabarmengajarikujasa mu megitubesarterhadadnegeriini
Jasa mu begitubanyakuntuknegaraininamun
Apalahdayaku
Akutakdapatmembalassemuajasamu
Tetapi
Akuhanyaabisaberterimakasihpadamu
Jasa mu akanselalukukenang
Kaulahsegalanyabagiku
Inspirasi : Dari sebuah cerita fiktif belaka.
Ide : Pikiran atau karangan sendiri.

Teks Anekdot

Penguasa Yang Serakah
            Pada suatu hari di sebuah kampung, ada seorang Penguasa Kampung yang serakah dan sering berbuat jahat. Waktu hari ituPenguasa Kampung bertemu dengan seorang Pedagang.  Awal cerita saat Pedagang itu bertemu Penguasa Kampung di seberang jalan.
Penguasa Kampung  : “Hei, kamu yang berbaju hitam ada apa gerangan kau melewati batas wilayah desa ini padahal kamu adalah masyarakat desa sebelah”.
Pedagang                   : “Hamba hanya ingin menjual dagangan hamba ke kampung sebelah ini untuk mencari penghasilan tambahan”.
Penguasa Kampung : “Tidak boleh, ini wilayah saya!!!”. “Jika kamu mau melewati batas desa ini, kamu harus membayar hasil daganganmu ke saya”.
Pedagang                   : “Apakah hamba harus membayar uang dagangan hamba ke Tuan, jika hamba membayar uang hasil berdagang hamba, anak dan istri saya dirumah makan apa?”.
Penguasa Kampung  : “Makan batu aja!!! (sambil tertawa)”.
Pedagang                   : “Jika Tuan ingin mengejek keluarga hamba, tolong jangan sebutkan istri dan anak hamba”.
Penguasa Kampung  : “Kalau saya mengejek keluarga anda, kamu mau melawan saya???”.
Pedagang                   : “Hamba tidak suka berkelahi, lebih baik hamba tidak berjualan di daerah ini”.
Penguasa Kampung : “Ya Bagus, lebih baik kamu pergi saja dari daerahku ini, jualanlah kembali kamu sana di kampungmu sendiri.
Pedagang                  : “Ya hamba juga tidak ingin melihat orang seperti Tuan yang sifatnya serakah”.

Lalu pedagang itu pergi dengan amarah yang besar, lalu pedagang itu melemparkan botol berisi air tepat di kepala penguasa kampung.


 


0 ulasan:

Catat Ulasan